Proses menuju pernikahan?
bagaimana Pentingnya Mempertahankan Pernikahan?
Menikah merupakan hal yang di idam-idamkan setiap orang. Baik yang masih sendiri maupun sedang berpacaran. Seseorang yang sendiri saja menginginkan menikah, apalagi yang sedang berpacaran. Dengan menikah adanya ikatan secara resmi baik negara maupun agama. Adapun proses yang dijalani sebelum menuju ke jenjang pernikahan. Dari pendekatan,pacaran,sampai pernikahan serta mempertahankannya.
1. Masa pendekatan
Hal ini diawali dari rasa suka, yang kemudian bertumbuh menjadi rasa perhatian, sayang dan cinta tentunya ini tak terlepas dari sebab-sebab ketertarikan bermula. Menurut Bersc heid & reis (dalam Aronson 2007) kedekatan dapat ditentukan dari ketertarikan interpersonal dimana orang-orang yang biasa kita jumpai sangat mungkin menjadi sahabat atau orang yang dicintai. Dalam teori efek kedekatan juga dikatakan bahwa semakin sering berinterkasi dan berjumpa dengan seseorang,semakin besar pula seseorang itu menjadi teman atau orang yang dicintai. Degan melihat teori dari keduanya memang hanya dilakukan dengan mereka yang bertatap muka. Lalu bagaimana dengan mereka yang berjauhan? Ya, jawaban tepat adalah media elektronik. Mereka bisa melakukan komunikasi melalui media transfelence ini, baik dengan SMS,Telepon,BBM-an atau Chating. Biasanya untuk mereka yang berjauhan ini atau orang biasa menyebutnya LDR (Long Distance Relationship) tak memperdulikan jarak. Sejauh apapun mereka yang penting komunikasi berjalan lancar. Mc Kenna juga menyebutkan bahwa ketertarikan yang lebih berkualitas melalui percakapan secara online dibanding dengan tatap muka langsung yang dilihat selalu dari fisiknya. Sedikit cerita dari seorang guru Bahasa Inggris saya sewaktu sekolah, selalu bercerita mengenai pasangannya yang berada di negara tetangga yang memang berprofesi sebagai nahkoda kapal, kenalan yang berawal dari chating ini berakhir dengan pernikahan indah. Untuk menyakinkan lelaki itu telah mentransfer uang sejumlah Rp.50.000.000,00 yang kabarnya ketika itu untuk biaya awal pernikahan, dan benar saja ternyata terlaksana. Berbagaimacam usaha dilakukan pada masa ini agar bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Namun, dimasa ini juga diharapkan berhati-hati dalam arti jangan mudah percaya. Secara teori situasi sosial ada dua, situasi terbuka dan tertutup. Situasi terbuka adalah situasi atau lingkungan yang memang mendukung berkembangnnya hubungan. Situasi tertutup adalah keadaan kondusif untuk orang berinteraksi dengan yang lain. pada intinya yang perlu ada di masa ini adalah teorinya mengenai kesamaan. Kesamaan kepribadian,kesamaan cara berhubungan dengan orang lain,kesamaan hobi & minat. Dan yang terakhir ini merupakan ‘jantung’ di masa pendekatan. Yaitu, sama-sama suka atau kesukaan timbal balik.
2. Masa Pacaran
Masa terindah ke-dua setelah pendekatan. Dimana keberhasilan diperoleh atas segala yang di usahakan pada masa pendekatan tadi. Masa pacaran yang indah memang menjadi kenangan tersendiri bagi pasangan yang sukses melanjutkan jenjang pernikahan. Maka memang diperlukan partisipasi dari dua belah pihak yang seimbang. Dalam teori keseimbangan disebutkan bahwa pikiran pokok seseorang dengan adanya hubungan yang telah dijalaninya dengan baik dibutuhkan kontribusi dari keduanya. Di masa pacaran ini dituntut agar mampu memilih pasangan hidup. Tidak dengan cinta dan kasih sayang saja secara materi juga perlu diperhatikan lahir ataupun bathin. Telah dipaparkan dari teori pendekatan evolusi bahwa lelaki cenderung memilih wanita yang daya tarik fisik lebih menonjol semetara wanita cenderung memilih lelaki yang bersumber daya terutama secara reproduksi.
3. Masa pernikahan
Sampai pada pokok pembahasan pernikahan. Ya, dari masa pacaran tadi pasti ditujukan untuk menikah. . Dalam pernikahan, ketiga komponen cinta (gairah,komitmen,keintiman) diharuskan ada dari ketiganya. Mengapa? Karena dengan adanya ketiga komponen tersebutlah yang disebut cinta sempurna. Tentunya hal ini diinginkan oleh setiap pasangan menikah. Menurut saya, mempertahankan pernikahan bukan perkara mudah. Dari sebelum menikah saja sebaiknya kita sudah mengenali secara dalam tentang bagaimana pasangan kita. Ada yang bertahun-tahun pacaran namun pernikahannya hanya seumur jagung,ada juga yang usia pernikahannya mencapai anggak emas namun mereka memutuskan untuk bercerai. Yah, sangat disayangkan. Dalam teori psikososial erikson mereka yang telah memasuki pernikahan di usia masa dewasa tengah intimacy vs guilt. Dimana mereka harus mampu berhubungan sangat erat dengan pasangan mereka. Jika tidak maka, kesalahanlah yang mereka tanggung. Jika telah memasuki jenjang pernikahan tentunya status dan peran seseorang berubah dan bertambah. Ambilah contoh dari pihak wanita. Statusnya berubah menjadi seorang istri, peran yang dijalankannya pun harus sebagai seorang istri yang pintar melayani suami baik lahir maupun bathin. Tak hanya itu, setiap pasangan suami-istri yang telah menikah ini tentunya menginginkan anak bukan? Ya tentu saja, lagi-lagi wanita (istri) yang harus berperan ganda. Oleh karena itulah, setiap kali pasangan yang ingin menikah selalu dilontarkan pertanyaan ‘sudah siapkah secara lahir,bathin dan mental?’. Sebenarnya pertanyaan ini ditujukan untuk benar-benar dipersiapkan karena pasti akan mengalami hal-hal yang disebutkan diatas.ternyata memang tidak seindah dan semudah dibayangkan menikah serta membangun bahtera rumah tangga yang harmonis. Seringkali rumah tangga diibaratkan seperti kapal yang sedang berlayar. Suami berperan sebagai nahkoda dan istri sebagai awak kapal yang turut membantu nahkoda kelak dibawa kemana kapal yang dikendarainya. Hal ini juga yang memicu berakhirnya pernikahan. Seperti yang diketahui baru-baru ini salah seorang da’i kondang telah bercerai dengan istrinya 7bulan yang lalu dimana pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 22tahun dengan dikaruniakan tujuh orang anak. Dan pada akhirnya mereka menikah kembali pada pekan lalu, dengan alasan keyakinan cinta yang mengembalikan mereka. Dari sini kita tau bahwa tak semudah dibayangkan mempertahankan pernikahan namun dengan rasa kepercayaan dan hubungan eratlah mampu dipertahankan.
NB:
Teori-Teori yang tertera dikutip dan bersumber dari handout materi kuliah KETERTARIKAN INTERPERSONAL/oleh: MM. Nilam Widyarini (dengan SUMBER: Aronson,E. Wilson. T.D, & Akert, R.M. (2007).Social psychology (6 edition). Singapore: Pearson Prentice Hall.
No comments:
Post a Comment