Monday, April 23, 2012

PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG

Bekerja atau melanjutkan sekolah? yup. Bisa saya Pastikan setelah selesai studi S1 nanti teman-teman sebagian besar ingin bekerja. Hmm, ya ya akhirnya setelah 4 tahun bergelut dengan buku,materi,dosen dan lain-lain yang berhubungan dengan kuliah kita dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dari kuliah melalui bekerja. Ohh tapi jangan salah tak semua pekerjaan yang kita inginkan bisa kita dapat,tak semua juga pekerjaan yang ada sesuai dengan gelar S1 kita.nah jika seperti itu, Terkadang memang kita diharuskan untuk ‘terpaksa’ bekerja,mau tidak mau dengan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Setidaknya untuk permulaan saja juga tidak apa daripada jadi pengangguran voluntary, sayang juga kan? Hehe..
Keterpaksaan memang menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengan terpaksa. Karena pada dasarnya kita tidak suka. Nah, bicara masalah suka atau tidak ini yang akan mempengaruhi kepuasaan bekerja. ( Menurut Howell and dipboye, dalam munandar 2008) kepuasan kerja sebagai keseluruhan dari pengukuran suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari setiap apa yang dikerjakannya. Dari situlah dapat dikatakan kepuasan kerja mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya. Jika hal ini yang terjadi maka motivasi kerja yang turut berperan. Seperti teori keadilan dan teori harapan. Teori keadilan yang dikembangkan oleh adams mengatakan bahwa masukan harus sesuai dengan keluaran, dapat dikatakan juga atas apa yang diupayakan untuk perusahaan dari tenaga kerja. Contoh, jumlah jam kerja,pengalaman,tingkat pendidikan. Dimana hal-hal tersebut harus sesuai dengan imbalan penghasilan/gaji. Di teori harapan yang dikembangkan oleh Vroom yang inti dari isinya yaitu; bahwa upaya tenaga kerja yang mengarah pada prilaku unjuk kerja yang dituju,setelahnya keluaran tertentu akan didapat dari hasil unjuk kerja tadi. Seperti yang sudah saya pelajari di SMA melalui mata pelajaran Ekonomi, Biasanya sebelum bekerja terjadi penawaran dan permintaan oleh perusahaan dan tenaga kerja. Permintaan merupakan bagaimana perusahaan mampu membayar per unit tenaga kerja. Penawaran merupakan kinerja yang akan diberikan atau ditawarkan oleh tenaga kerja di perusahaan dengan pengukuran tinggkat upah. Ya ini memang tergantung keahlian dan tingkat pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan dan keahlian semakin tinggi pula mereka akan tawar-menawar upah/gaji ditambah dengan banyaknya perusahaan yang meminta (mencari) tenaga kerja tersebut. Nah, Sesuai bukan dengan bunyi hukum penawaran dan permintaan ekonomi yang sebenarnya :D. Dari faktor inilah yang nantinya muncul perubahan dalam persediaan dan permintaan pekerjaan serta tenaga kerja. Untuk tenaga kerja yang seperti ini juga ialah orang-orang yang memiliki self esteem tinggi. Dimana mereka merasa bahwa orang atau perusahaanlah yang membutuhkan mereka bukan mereka. Ok, katakanlah mereka orang yang beruntung, mengapa? Karena pekerjaan telah menjemput mereka bukan mereka yang menjemput pekerjaan. Namun terkadang, jika rasa bosan mereka pada pekerjaan tersebut tak enggan atau ragu bagi mereka untuk berganti pekerjaan. Bisa mereka mengajukan pengunduran diri/keluar (resine) dari perusahaan tersebut,mengajukan diri untuuk oposisi,dsb. Negatifnya memang ini terlihat merepotkan perusahaan yang telah mempekerjakan mereka karena bisa kita bayangkan jika tenaga kerja tersebut atau yang diminta jarang ada. positifnya adalah mereka (tenaga kerja) merupakan orang yang berani untuk membentuk karir selanjutnya yang mungkin lebih baik bagi dirinya.
Baiklah kita tinggalkan mengenai pekerjaan. Selanjutnya waktu luang.

Waktu luang di pekerjaan adalah waktu untuk melepas penat,bosan,lelah dan terutama agar terhindar dari stress setelah seminggu bekerja. Mengapa saya katakan seminggu? Karena sebagian besar orang memiliki waktu luang di akhir pekan. Hal yang biasa dilakukan paling tidak yaitu jalan-jalan ke luar kota dengan keluarga, dengan tujuan merefreshkan pikiran agar ketika masuk kerja konsentrasi dan semangat meningkat. Waktu luang memang dinantikan oleh para tenaga kerja namun bagi workaholic waktu luang merupakan penghambat pekerjaan bagi mereka. Workaholic adalah orang yang terlalu over dalam bekerja, yang initinya tidak baik dan tidak sehat terhadap diri. Waktu luang memang baiknya digunakan secara positif. Menurut (Hans,2006) para psikolog sependapat bahwa kemampuan mengendalikan diri dalam mengelolakan waktu adalah kunci memperoleh rasa bahagia, percaya diri, kesehatan dan kesejahteraan.
Sekian pembahasan yang dapat saya tulis, jika ada yang kurang dan salah mohon maaf yaa.. terimakasih ^^
SUMBER:
- Munandar, Ashar Sunyoto. (2008). PSIKOLOGI INDUSTRI dan ORGANISASI. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
- Hans, Jen, 2006. Strategi Pengembangan Diri,Jakarta : Personal development Training

Monday, April 2, 2012

Ulasan Sederhana Mengenai Pernikahan dari Dimensi Psikologi Sosial

Proses menuju pernikahan?
bagaimana Pentingnya Mempertahankan Pernikahan?

Menikah merupakan hal yang di idam-idamkan setiap orang. Baik yang masih sendiri maupun sedang berpacaran. Seseorang yang sendiri saja menginginkan menikah, apalagi yang sedang berpacaran. Dengan menikah adanya ikatan secara resmi baik negara maupun agama. Adapun proses yang dijalani sebelum menuju ke jenjang pernikahan. Dari pendekatan,pacaran,sampai pernikahan serta mempertahankannya.
1. Masa pendekatan
Hal ini diawali dari rasa suka, yang kemudian bertumbuh menjadi rasa perhatian, sayang dan cinta tentunya ini tak terlepas dari sebab-sebab ketertarikan bermula. Menurut Bersc heid & reis (dalam Aronson 2007) kedekatan dapat ditentukan dari ketertarikan interpersonal dimana orang-orang yang biasa kita jumpai sangat mungkin menjadi sahabat atau orang yang dicintai. Dalam teori efek kedekatan juga dikatakan bahwa semakin sering berinterkasi dan berjumpa dengan seseorang,semakin besar pula seseorang itu menjadi teman atau orang yang dicintai. Degan melihat teori dari keduanya memang hanya dilakukan dengan mereka yang bertatap muka. Lalu bagaimana dengan mereka yang berjauhan? Ya, jawaban tepat adalah media elektronik. Mereka bisa melakukan komunikasi melalui media transfelence ini, baik dengan SMS,Telepon,BBM-an atau Chating. Biasanya untuk mereka yang berjauhan ini atau orang biasa menyebutnya LDR (Long Distance Relationship) tak memperdulikan jarak. Sejauh apapun mereka yang penting komunikasi berjalan lancar. Mc Kenna juga menyebutkan bahwa ketertarikan yang lebih berkualitas melalui percakapan secara online dibanding dengan tatap muka langsung yang dilihat selalu dari fisiknya. Sedikit cerita dari seorang guru Bahasa Inggris saya sewaktu sekolah, selalu bercerita mengenai pasangannya yang berada di negara tetangga yang memang berprofesi sebagai nahkoda kapal, kenalan yang berawal dari chating ini berakhir dengan pernikahan indah. Untuk menyakinkan lelaki itu telah mentransfer uang sejumlah Rp.50.000.000,00 yang kabarnya ketika itu untuk biaya awal pernikahan, dan benar saja ternyata terlaksana. Berbagaimacam usaha dilakukan pada masa ini agar bisa berlanjut ke tahap selanjutnya. Namun, dimasa ini juga diharapkan berhati-hati dalam arti jangan mudah percaya. Secara teori situasi sosial ada dua, situasi terbuka dan tertutup. Situasi terbuka adalah situasi atau lingkungan yang memang mendukung berkembangnnya hubungan. Situasi tertutup adalah keadaan kondusif untuk orang berinteraksi dengan yang lain. pada intinya yang perlu ada di masa ini adalah teorinya mengenai kesamaan. Kesamaan kepribadian,kesamaan cara berhubungan dengan orang lain,kesamaan hobi & minat. Dan yang terakhir ini merupakan ‘jantung’ di masa pendekatan. Yaitu, sama-sama suka atau kesukaan timbal balik.



2. Masa Pacaran
Masa terindah ke-dua setelah pendekatan. Dimana keberhasilan diperoleh atas segala yang di usahakan pada masa pendekatan tadi. Masa pacaran yang indah memang menjadi kenangan tersendiri bagi pasangan yang sukses melanjutkan jenjang pernikahan. Maka memang diperlukan partisipasi dari dua belah pihak yang seimbang. Dalam teori keseimbangan disebutkan bahwa pikiran pokok seseorang dengan adanya hubungan yang telah dijalaninya dengan baik dibutuhkan kontribusi dari keduanya. Di masa pacaran ini dituntut agar mampu memilih pasangan hidup. Tidak dengan cinta dan kasih sayang saja secara materi juga perlu diperhatikan lahir ataupun bathin. Telah dipaparkan dari teori pendekatan evolusi bahwa lelaki cenderung memilih wanita yang daya tarik fisik lebih menonjol semetara wanita cenderung memilih lelaki yang bersumber daya terutama secara reproduksi.

3. Masa pernikahan
Sampai pada pokok pembahasan pernikahan. Ya, dari masa pacaran tadi pasti ditujukan untuk menikah. . Dalam pernikahan, ketiga komponen cinta (gairah,komitmen,keintiman) diharuskan ada dari ketiganya. Mengapa? Karena dengan adanya ketiga komponen tersebutlah yang disebut cinta sempurna. Tentunya hal ini diinginkan oleh setiap pasangan menikah. Menurut saya, mempertahankan pernikahan bukan perkara mudah. Dari sebelum menikah saja sebaiknya kita sudah mengenali secara dalam tentang bagaimana pasangan kita. Ada yang bertahun-tahun pacaran namun pernikahannya hanya seumur jagung,ada juga yang usia pernikahannya mencapai anggak emas namun mereka memutuskan untuk bercerai. Yah, sangat disayangkan. Dalam teori psikososial erikson mereka yang telah memasuki pernikahan di usia masa dewasa tengah intimacy vs guilt. Dimana mereka harus mampu berhubungan sangat erat dengan pasangan mereka. Jika tidak maka, kesalahanlah yang mereka tanggung. Jika telah memasuki jenjang pernikahan tentunya status dan peran seseorang berubah dan bertambah. Ambilah contoh dari pihak wanita. Statusnya berubah menjadi seorang istri, peran yang dijalankannya pun harus sebagai seorang istri yang pintar melayani suami baik lahir maupun bathin. Tak hanya itu, setiap pasangan suami-istri yang telah menikah ini tentunya menginginkan anak bukan? Ya tentu saja, lagi-lagi wanita (istri) yang harus berperan ganda. Oleh karena itulah, setiap kali pasangan yang ingin menikah selalu dilontarkan pertanyaan ‘sudah siapkah secara lahir,bathin dan mental?’. Sebenarnya pertanyaan ini ditujukan untuk benar-benar dipersiapkan karena pasti akan mengalami hal-hal yang disebutkan diatas.ternyata memang tidak seindah dan semudah dibayangkan menikah serta membangun bahtera rumah tangga yang harmonis. Seringkali rumah tangga diibaratkan seperti kapal yang sedang berlayar. Suami berperan sebagai nahkoda dan istri sebagai awak kapal yang turut membantu nahkoda kelak dibawa kemana kapal yang dikendarainya. Hal ini juga yang memicu berakhirnya pernikahan. Seperti yang diketahui baru-baru ini salah seorang da’i kondang telah bercerai dengan istrinya 7bulan yang lalu dimana pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 22tahun dengan dikaruniakan tujuh orang anak. Dan pada akhirnya mereka menikah kembali pada pekan lalu, dengan alasan keyakinan cinta yang mengembalikan mereka. Dari sini kita tau bahwa tak semudah dibayangkan mempertahankan pernikahan namun dengan rasa kepercayaan dan hubungan eratlah mampu dipertahankan.




NB:
Teori-Teori yang tertera dikutip dan bersumber dari handout materi kuliah KETERTARIKAN INTERPERSONAL/oleh: MM. Nilam Widyarini (dengan SUMBER: Aronson,E. Wilson. T.D, & Akert, R.M. (2007).Social psychology (6 edition). Singapore: Pearson Prentice Hall.

Sunday, April 1, 2012

Gangguan Penyalahgunaan Narkoba serta Penyembuhannya Secara Psikologis

NARKOBA hemm ya ya ya agak ‘horor’ didengarnya. Membahayakan dan bisa ‘merasuki’ siapa saja. Kenapa saya bilang siapa saja? Karena sekarang gak Cuma anak-anak yang nakal aja pake barang haram ini tapi juga wohooo maaf ya, orang-orang yang berintelek. Yah baru-baru ini juga seperti yang kita ketahui maaf sebelumnya, ada oknum polisi,oknum pilot apalagi,oknum mahasiswa,dsb. Murah,mudah atau tidaknya dipatkan barang ini yang penting mereka merasa tenang dan damai kalau udah pake, katanya bagai di ‘surga dunia’ halahhhh ckck. narkoba juga tidak hanya membahayakan user tapi juga orang lain. wahh ini nih.. masih kan kalian peristiwa ‘tugu tani’? pengendara yang didiagnosis positif menggunakan shabu dan ekstasi ini menabrak 13 orang yang 9 diantaranya meninggal dunia dan lainnya luka-luka. Gak lama setelah itu adalagi nih, oknum pilot yang juga didiagnosis positif menggunakan shabu dan pil koplo. Haduhhhhh pak pak nyawa penumpang kok jadi taruhan piye iki pak??!!. Ironisnya lagi nih, oknum polisi yang menjabat sebagai kapolsek disinyalir menggunakan narkoba jenis shabu. Owalaah bagaimana mau aman wong yang ‘didalam’ aja seperti itu yah. Secara perkembangan usia, tentunya mereka sangat matang, dalam arti untuk menentukan mana yang baik dan buruk. Tapi sekarang itu tak berlaku, karena menurut mereka (user) narkoba telah menjadi life style hmm perubahan buruk ini namanya. Secara teori jika seseorang sudah memasuki ini, maka sulit untuk keluar karena telah berada di ‘lingkaran bisnis’nya. Baru-baru ini, wanita sering di jadikan oknum kurir obat terlarang. Himbauan buat kawan-kawan wanita kalau di tawari pekerjaan mesti hati-hati, ketahui dulu jenis pekerjaannya sampai mengenali tempat, ilegal atau legal. Saat ini memang narkoba tak bicara mengenai matang atau tidaknya usia, melainkan karena beban-beban yang mereka pikul amat berat sehingga mereka butuh ketenangan diri. Heeyyyy ini salah besar, secara spiritual ketenangan adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan YME (ibadah). Mari kita bahas yang remaja; Dewasa ini remaja semakin mudah untuk bergaul, mulai dari situs jejaring sosial sampai tempat-tempat hiburan yang mereka kunjungi seperti, mall,tempat karaoke,klub malam (night club),dst. Ditempat-tempat itulah para remaja mengenal bahkan memiliki banyak teman. Suatu hal yang patut untuk para orangtua hindari adalah bergaul dengan ‘salah’teman, dalam arti anak harus bisa selekti f untuk memilih teman apalagi yang baru dikenal. Biasanya para remaja ini (sudah pandai bergaul) bekisaran usia-usia SMP-SMA, dan itulah sasaran empuk para oknum pengedar narkoba yang tidak bertanggungjawab menjajakan ‘dagangannya’. Mulai dari menyebarkan melalui makanan dan minuman sampai dari teman ke teman,oleh karena itu remaja harus berhati-hati memilih atau berteman. Definisi dari narkoba yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik dengan cara dihisap/diminum, dihirup, atau disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiktif) fisik dan psikologis. Mendengar definisinya saja sudah mengerikan, karena adanya ganguan secara biopsikologis dan psikologis pemakai. Dari sini kita dapat membayangkan bagaimana bahaya dari efek,faktor risiko dan penyalahgunaan dari narkoba sendiri. Semakin beredarnya narkoba secara gelap di kalangan remaja ini pun pemerintah dan BNN (badan narkotika nasional) tidak tinggal diam, selain menindak tegas oknum-oknum yang terlibat, lembaga ini juga menyediakan panti rehabilitasi untuk para pemakai agar sembuh dari ketergantungan narkoba. Persoalan yang tak mudah memang ketika narkoba merajalela di kalangan remaja, yang mengingat penyebarannya semakin meluas, selain di sekolah juga di tempat-tempat hiburan yang sering di kunjungi remaja terutama malam hari,seperti club malam(night club), yang juga kita ketahui, clubing (sebutan remaja dengan kegiatan malam tersebut) telah menjadi gaya hidup (life style) remaja mulai dari yang masih sekolah sampai eksekutif muda. Tentunya sangat disayangkan bila itu terjadi, karena Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa remaja ini akan membentuk perkembangan diri dari orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah bila masa remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan hancurlah masa depannya. Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan life style, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja. Secara teori psikologi perkembangan, remaja memang cenderung ber-paradigma specialless and invlnerability dimana san remaja merasa memiliki keistimewaan,berbeda dengan yang lain makanya mereka melakukan kenakalan-kenakalan yang ada. misalnya;”ah tenang aja kalaupun saya nge-drugs pasti bisa saya kendalikan, mereka yang ketergantungan karena tidak bisa mengendalikan saja”. Namun, yang lebih bahaya lagi bila penggunaan narkoba, para remaja ini tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja lain. Hal ini telah terbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya manusia bagi bangsa. Hemm.. ayolah kawan gak untungnya nge-drugs, rugi di diri sendiri maupun orang lain.
Alasan mengapa orang menyalahgunakan narkoba? Awalnya mereka memang tidak tok begitu saja menggunakan, mula-mula dari rokok,minuman ber-alkohol. Minuman ber-alkohol sendiri ber-efek hangover (ada yang tau hangover apa? Nge-fly coyyy alias mabuk, hehe). Dari situ saja tentunya sudah diketahui efek dan bahayanya, yup. Merusak bagian organ-organ tubuh tertentu. Namun, para pengguna ini menambahkan obat-obatan terlarang ini kedalamnya seperti, pil ekstasi,ganja,heroin. Sehingga menjadikan stimulasi tubuh memiliki dampak aktif pada sistem saraf. (WARNING: BUKAN UNTUK DICONTOH). Secara umum, para pengguna melakukan ini hanya ikut-ikutan meski itu alasan klasik tapi nyata. Lebih klasiknya lagi agar membantu menenagkan pikiran. Teorinya di psikologi abnormal dituturkan bahwa alkoholisme dan substance abuse merupakan bentuk prilaku maladaptif, seperti yang disebutkan diatas dari efek-efek obat-obatan tadi.
Kalau sudah seperti ini apakah bisa pulih kembali? Wohooo.. tenang InsyaAllah bisa. Ada beberapa trattment atau penyembuhan-penyembuhan yang dapat di lakukan. Diantaranya;
-terapi biologis, menggunakan zat untuk rasa ketagihan terhadap obat-obatan tertentu, efek penghentiannya akan terasa kurang lebih tiga hari. Alangkah baiknya lagi jika terapi atau treatment ini dibarengi dengan treatment kognitif prilaku dll.
- Terapi nonmedis, disini dapat digunakan metode psikoterapi. Penyembuhan semacam ini biasanya dilakukan dengan rawat jalan. Karena psikoterapis menggunakan program 12 langkah yang tentunya klien sendiri mendapat dukungan penuh dari lingkungan maupun psikoterapisnya sendiri, untuk meyakinkan dan memotivasi bahwa klien bisa sembuh maksimal atau tetap berada dalam terapi (perawatan penyembuhan)
- Hypnoterapi, diketahui dapat menyembuhkan ketergantungan obat. Namun, ini tidak semudah terapi sebelumnya. Menyesuaikan kondisi, hypnoterapis diharuskan mengenali klien agar timbul keterpercayaan dan keterikatan. Tentunya ini semakin memudahkan saat tahap hypnoterapi sendiri. Di hypnoterapi ini juga diharapkan klien sudah ada kemauan untuk sembuh dari diri sendiri.



Sekian penuturan mengenai keterkaitan penyelahgunaan narkoba secara psikologis, maaf jika ada yang salah dan kurang karena saya masih dalam tahap belajar. Terimakasih







Sumber info:
- Raharjo,Budi.S. S.(2010). Dalam Sinar BNN.
Jakarta : PT alberta media.
- Halgin P. R,Whitbourne S. K.(2011) .
Psikologi abnormal.edisi 6.jakarta : salemba humanika.
- Dan sumber berita yang beredar