SEHAT, mendengar kata itu tentu semua orang menginginkannya, Baik yang sedang sakit ataupun yang memang dalam keadaan baik-baik saja. Secara medis, sehat berarti tidak sakit (fisik),mampu untuk melakukan aktifitas dengan baik,dan bugar. Secara psikologis, sehat berarti tidak sakit (secara mental). Dimaksudkan lagi, sehat dalam pikiran dan mental, pola pikir, tingkahlaku, rohaniah, bersosialisasi dan spiritual. Menurut Jen hans(2006), diri dan pribadi yang sehat adalah diri yang ingin sukses dan mengembangkan baik untuk kesuksesan fisik,intelektual,emosi,sosial,finansial dan spiritual. Yup, sehat fisik dan psikologis atau orang biasa katakan sehat lahir dan bathin merupakan keseimbangan dari ‘hidup sehat’. Tidak akan berarti apa-apa jika sehat secara fisik namun psikologis tidak, begitupun sebaliknya. Dewasa ini, beberapa orang memang sehat secara fisik namun tidak pada psikologisnya. Seperti yang dialami oleh anak angkat wakil bupati yang juga mantan aktor ini (RK), yang berinisial R. Sang ayah angkat terkejut mendengar anaknya terlibat narkoba, yang diberitakan saat ini sedang ditahan di kepolisian bandara bersama seorang teman wanitanya . Saat kecil R memang diketahui mengidap bipolar yang mengharuskan dirinya mengkonsumsi obat penenang. Beberapa psikolog berpendapat bahwa R mengidap bipolar sejak kecil diduga karena tekanan secara mental, dimana R kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya karena R bukan anak kandung dari RK melainkan anak angkat. Hal ini juga yang menjadikan R seorang yang intovert. Bipolar merupakan salah satu gangguan mood dimana keadaan seseorang yang tenang namun secara tiba-tiba berprilaku dan berpikir diluar kendali. Ini hanya salah satu dari sekian banyak contoh kasus yang ada. Sehat secara fisik tak berarti mulu sehat secara psikologis. Konsep sehat sendiri adalah konsep yang disadari oleh diri manusia berbagai usaha yang dilakukan untuk tetap sehat. Tentunya ini berhubungan dengan apa yang ada di alam dan hal yang dilakukan telah menjadi kebiasaan kita, seperti secara fisik tubuh ini butuh energi, mengatur emosi disaat-saat tertentu, intelektual yang harus selalu ditingkatkan, menjalankan kegiatan rohaniah agar hati terasa damai, sosialisasi untuk mengenal banyak orang serta spiritual dimana kita sebagai individu diwajibkan untuk bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Untuk lebih jelasnya, berikut dimensi-dimensi dari sehat;
Sehat jasmani/fisik
Disini manusia harus lebih bisa untuk memperhatikan diri sendiri untuk kesehatannya. Mulai dari pola makan,olah raga,pola dan jam tidur yang cukup, serta kegiatan lain yang sekiranya imbang dengan kemampuan fisik.
Sehat mental
Sebenarnya orang belum begitu memperhatikan kesehatan mental mereka,bagaimana keadaan mental, stabilkah atau sedang tidak stabil. Bagi awam jika fisik baik-baik saja maka tak ada masalah dengan mental, padahal tidak seperti itu. Ok, untuk mudahnya begini saja, jika kita dalam keadaan tidak stres,tenang,positif thinking selalu, terhindar dari ketidakbahagiaan,dsb. maka artinya mental kita dalam keadaan ‘baik/sehat’
Sehat sosial
Ya, tentu saja orang yang sehat pasti bisa bergaul dengan baik, bersosialisasi,mencari dan punya banyak teman merupakan hal yang dijalani orang-orang pada umumnya.
Sehat spiritual
Sebagai individu yang normal tentunya kita ingin selalu untuk bisa dekat dan mendekatkan diri dengan Tuhan, agar apa yang kita jalani dan kerjakan didunia ini imbang dengan kegiatan di akhirat nanti.
1. Jelaskan mengenai sejarah perkembangan kesehatan mental?
Kesehatan mental. Apa yang terlintas dipikiran anda jika mendengar kalimat itu? Hemm, yak agak berat memang terdengarnya. Jangankan Kehatan mental terkadang kesehatan jasmani saja sering terabaikan tanpa kita sadari. Adanya kesehatan mental tentunya karena dahulu sudah ada atau bahkan banyak yang mengalami gangguan mental. Lalu bagaimana sejarahnya? Terdapat perkembangan darimana saja kesehatan mental itu? Berikut penjelasannya;
A. Gangguan Mental Tidak Dianggap Sebagai Sakit
- Tahun 1600 dan sebelumnya
Dahulu masyarakat menganggap kalau orang yang mengalami gangguan mental itu karena mereka tengah dirasuki roh-roh yang ada disekitar. Karena itulah mereka tidak dianggap sehingga mereka tidak diasingkan dan masih mendapat tempat dimasyarakat.
- Tahun 1692
Akibat dari sebuah pengaruh para imigran Eropa yang beragama nasrani, menganggap bahwa di Amerika orang yang bergangguan mental karena terkena sihir/guna-guna atau dirasuki setan. Secara umum kabar ini diterima oleh masyarakat sehingga bagi mereka yang dianggap memiliki sihir dibenci oleh sekitar. Bahkan pengadilan pernah memvonis 19 orang untuk digantung karena dianggap memiliki kekuatan sihir.
B. Gangguan Mental Dianggap Sebagai Sakit
- Tahun 1724
Pendeta cotton mather (1663-1728) berpendapat bahwa takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa disusul juga ada kemajuan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa tersendiri. Disini benih-benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan, dimana berperan sebagai pemberi penjelasan masalah kejiwaan/akibat gangguan yang terjadi ditubuh.
- Tahun 1812
Medical inquiries and observations upon disease of the mind merupakan buku teks psikiatri Amerika pertama yang publikasikan oleh Benjamin Rush (1745-1813) yang menjadi salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah dengan secara manusiawi untuk penyakit mental.
- Tahun 1843
Terdapat kurang lebih 24 rumah sakit, namun yang ada hanya 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.
- Tahun 1908
Manik depresif yang diderita oleh Clifford beers (1876-1943) pada tahun 1900. Beliau merupakan lulusan yale dan seorang bisnisman, yang kemudian mengalami gangguan setelah sakit. Beers dimasukan ke rumah sakit mental swasta di Connectticut setelah mencoba bunuh diri. Lepas dari itu beers kemudian mendirikan masyarakat connecticcut untuk mental hiegine yang kemudian berikutnya berubah menjadi Komite Nasional untuk mental hiegiene yang merupakan pendahulu asosiasi kesehatan mental nasional sampai sekarang ini.
- Tahun 1909
Sigmund freud mendatangi amerika dan mengajar psikoanalisa di Clark University,worcester,massachutetts.
- Tahun 1910
Emil kreaplin pertama kali menggambarkan penyakit alzheimer. Beliau juga yang mengembangkan alat tes yang mampu untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsi.
- Tahun 1918
Di amerika asosiasi psikoanalisa telah membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanlisa.
- Tahun 1920
Harry stack sullivan yang mengawasi pasien skizofrenia di rumah sakit sheppard-pratt hospital menunjukan pengaruh lingkungan terapeutik ketika para pasien dapat dikembalikan ke masyarakat.
- Tahun 1930
Psikiatri mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatment untuk penderita skizofrenia.
- Tahun 1936
Agas moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama.
- Tahun 1940
Pada tahun ini sampai 1950an dimulainya perawatan penyakit mental di inggris.
- Tahun 1947
Fountain house di new york city memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
- Tahun 1950
Terdapatnya lembaga NAMH (national association of mental health). Lembaga baru ini melanjutkan misi beers dengan lebih jelas. NAMH melanjutkan mendidik publik amerika pada isu-isu kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
- Tahun 1952
Adanya chlorpromazine yaitu obat antipsikopatik konvensional pertama diperkenalkan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental yang terkait.
- Tahun 1960-an
Pada masa ini segala hal yang tabu terkait dengan gangguan mental mulai dibuka dan didiskusikan secara umum.
C. Gangguan Mental Dianggap Sebagai Bukan Sakit
- Tahun 1961
Thomas szacz yang mengemukakan dasar teori bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah benar-benar sakit, akan tetapi tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus beraksi terhadap lingkungan.
- Tahun 1962
Ada sekitar 422.000 orang yang tinggal dirumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.
- Tahun 1997
Ditahun ini para peneliti mengemukakan hasil penelitian mereka bahwa kaitan genetik pada gangguan bipolar menunjukan bahwa penyakit ini diturunkan.
A. mengenai perkembangan kepribadian seseorang menurut teori Erik H Erikson;
1. Basic Trust vs Mistrust (infancy 0-1tahun)
Ini merupakan tahap dimana bayi mengenal lingkungan sekitar. Mempercayai vs tidak percaya ini terlihat kecenderungan bahwa prilaku bayi dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Seperti halnya yang biasa kita lihat jika bayi dipangku oleh orang yang selain ibu maka ia menangis, itu karena masa adaptasi si bayi dengan lingkungan. Tentunya yang berperan penting di tahap ini adalah orangtua.
2. Autonomy vs Shame and Doubt (early childhood 1-3tahun)
Ditahap ini secara motorik anak sudah mulai bisa merangkak,duduk,berdiri,jalan termasuk menggenggam botol susu dengan baik tanpa di bantu orangtuanya. Diiringi dengan perkembangan motorik anak diajarkan untuk mampu melakukan hal itu dengan sendirinya tanpa bantuan, seperti jika anak berjalan biasanya dia menggandeng tangan orang yang mendampinginya, bisa juga dengan diiringi perintah ‘ayoo adek maju,jalan terus’ dan ketika menghampiri biasanya dia langsung memeluk sebagai tanda bahwa dia telah berhasil. Namun ada juga anak yang malu-malu dan ragu, ketika diajarkan jalan, jika yang tadinya kita gandeng lalu dilepas biasanya menangis, ini menunjukan bahwa anak tersebut belum yakin dengan kemampuan motoriknya.
3. Initiative vs Guilt (preshool age 4-5tahun)
Ini merupakan masa dimana anak mengembangkan kecakapan atau keahlian yang dia miliki. Dengan diambang keterbatasan akalnya anak juga terkadang melakukan kesalahan, hal ini ini pun dapat membuat anak merasa jadi bersalah dan mengalami beberapa hambatan sehingga dia suatu saat dia tidak lagi mengembangkan kecakapannya. Di tahap ini keinginan dan kemampuan anak untuk belajar sangat besar dan sudah merasa memiliki tujuan. Peran orangtua dan lingkungan sekitar yang mendukung anak melalui tahap ini. Salah satu hal yang mereka lakukan biasanya bernyanyi, awal dengan pengucapan lirik yang salah, nada yang kurang tepat sering kali menjadi tolak ukur orang yang mendengarnya (orangtua,kakak). Jika anak melakukan hal berikut maka dalam mengomentari harus hati-hati, bahkan diharuskan memberi pujian agar anak yakin secara perlahan bahwa dengan apa yang dia kerjakan atas kemampuan dirinya tanpa banyak melakukan kesalahan.
4. Industry vs Inferiority (schoolage 6-11tahun)
Sebagai kelanjutan dari tahap sebelumnya, anak mulai aktif dengan mempelajari lingkungan sekitar, motivasi untuk belajar terhadap lingkungannya sangat besar. Namun dengan adanya keterbatasan yang juga dia miliki itulah yang membaut dirinya merasa sukar untuk belajar, dari hambatan hingga kegagalan yang terkadang merasa rendah diri. Sebenarnya di tahap ini merupakan proses dimana daya juang anak dalam belajar, merasakan bagaimana rasanya berhasil dengan apa yang dilakukannya adalah hasil yang didapat sebagai tolak ukur untuk menyelesaikan atau melewati tuntutan selanjutnya. Orangtua serta guru yang berperan penting disini, karena dengan adanya mereka anak merasa mendapatkan kebutuhan yang diperlukannya.
5. Identity vs identity confusion (adolence 12-20tahun)
Di tahap kelima perkembangan ini terlihat dimana remaja mencoba mengembangkan pemahaman diri yang koheren, termasuk peran yang akan dijalaninya di lingkungan luar. (menurut Erikson dalam Papalia, 2009) remaja membentuk identitas mereka dengan menggabungkan identifikasi sebelumnya menjadi “struktur psikologis baru, lebih besar dari bagian jumlah yang membentuknya”. Identitas yang terbentuk saat remaja menyelesaikan tiga persoalan besar, yakni: pilihan pekerjaan, pemilihan nilai-nilai untuk diterapkan dalam hidup, dan identitas perkembangan seksual yang memuaskan. (papalia, 2009) “krisis identitas” jarang terselesaikan secara penuh dimasa remaja, isu-isu yang berkaitan dengan identitas akan muncul kembali berulang kali sepanjang masa kehidupan dewasa. Pencarian jati diri serta menghindari peran ganda adalah tugas utama ditahap ini, Guncangan secara emosi dan mental yang merupakan tolak ukur dan tentunya membuat remaja labil dalam berbuat.
Eksternal yang berperan penting ditahap ini, karena remaja cenderung lebih peka dengan teman-temannya dibanding orangtua.
6. Intimacy vs Isolation (young adulthood 21-40tahun)
Masa dewasa awal yang dituntut untuk saling berkomitmen atau menghadapi rasa pengasingan diri dan keterpakuan dalam diri sendiri (Erikson, dalam Papalia 2009 hal. 169). Membina hubungan secara lebih luas dan mendalam dalam tahap ini membuat dewasa awal belajar bagaimana memiliki ikatan yang kuat dan berkomitmen, Menyatukan hubungan yang tadinya renggang atau lebih mengakrabkan lagi. Ini merupakan masa transisi yang berat, tidak hanya dewasa awal yang melakukan trasisi namun para orangtua mereka juga mengalami transisi dimana untuk bisa melepas anak-anak mereka menikah.
7. Generativity vs stagnation (middle adulthood 41-65tahun)
Dewasa yang matang ada ditahapan ini, dimana keperdulian dalam membangun,membimbing, serta mengajak generasi berikutnya untuk mengikuti jejak dirinya. Jika dalam tahap ini tidak mampu dilaksanakan biasanya mengalami rasa ketersendatan atau ketiadaan hidup. Krisis paruhbaya sering juga disebutkan ditahap ini, dalam perkembangan kepribadian serta gaya hidup yang menjadikan mereka “puber kedua” ketika bberada diusia 40an. Berkaitan dengan tahapan sebelumnya ketika mereka diharuskan melepaskan anak-anak pergi (menikah) atau disebut juga tahap ‘emptynest’ yang dengan artinya tanggung jawab orangtua telah usai. Ditahap ini juga merupakan titik puncak dari kurva pernikahan yang berbentuk U.
8. Ego Integrity vs Despair (Senscence +65 tahun)
Sampailah pada masa akhir kehidupan, setelah merasakan ‘emptynest’ tadi tentunya ditahap ini telah bertambah peran sebagai nenek/kakek. Ditahap ini memang selalu didekatkan dengan kematian. Yak, menghadapi kematian orang yang dicintai memnag cukup sulit dalam keadaan normal, terbukti dari mengalami breavement (kehilangan) karena proses menyesuaikan terhadap kehilangan tersebut.
B. Selanjutnya mengenai perkembangan kepribadian Sigmund Freud (psikoseksual)
1. Masa Oral (0-18bulan)
Dimasa ini tugas perkembangan dari anak adalah menghisap. Pusat kenikmatan pada bayi terletak dimulutnya, seperti menyusui, baik dari ASI maupun botol susu. Disini peran ibu sangat penting karena merupakan objek terdekat anak.
2. Masa Anal (1-3tahun)
Ini tahapan dimana anak diajarkan sudah mampu untuk tau bagaimana bertanggung jawab,serta berlaku disiplin atas suatu hal yang dilakukan secara tertentu. Pusat kenikmatannya bersumber pada anus, disini anak menerapkan kedisiplinannya melalui toilet training.
3. Masa Falik (3-5tahun)
Anak sudah mulai menimbulkan rasa kedekatan pada orangtua lawan jenis, seperti anak perempuan mengalami keterdekatan pada ayahnya (elektra kompleks), pada anak lali-laki dengan ibu (oudipus kompleks), oleh karena itu orangtua diharapkan untuk berhati-hati pada prilaku mereka, sadar atau tidak anak sering memperhatikannya sebagai model. Pusat kepuasan terletak pada daerah kelamin.
4. Masa Laten (5-12)
Konflik yang terjadi pada masa ini adalah sosialisasi. Dimana anak lebih senang bergaul dengan teman-teman sejenis, selain merasa nyaman mereka juga meresa terlindungi. Fase laten sering disebut masa ‘homoseksual alamiah’, ini terjadi atas perkembangan motorik dan kognitif anak.
5. Masa Genital (+12tahun)
Pubertas yang ditandai dengan sudah masaknya alat-alat reproduksi yang pusat kepuasannya terletak pada daerah kelamin. Masa-masa ‘keterdekatan’ kedua setelah orangtua ini membuat individu merasa berepngaruh kuat untuk masa depan.
C. Apa itu kepribadian sehat?
Kepribadian sehat terlihat dari keberhasilan individu melalui tugas-tugas dari masa perkembangan yang ada. Karena pada dasarnya orang yang berkepribadian sehat itu ada dalam kurva normal secara statistik dalam arti juga hidup sebagimana manusia secara mayoritas. Tidak dipojokan pada hal bahwa kita harus sama dengan yang lain melainkan kita harus mengoptimalkan self efficacy. Jadi, kepribadian sehat tak melulu dengan fisik sempurna,dsb. Namun untuk menjadi sesuai dengan kompetensi yang kita miliki dan terus mengembangkannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Schultz, Duane, 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat, Yogyakarta : Kanisius
- Prabowo, Hendro,dkk.1996. Psikologi Umum I, Jakarta : Universitas Gunadarma
- Prabowo, Hendro, dkk.1998. Psikologi Umum II, Jakarta : Universitas Gunadarma
- Siswanto, 2007. Kesehatan Mental, Yogyakarta : Andi Yogyakarta
- Hans, Jen, 2006. Strategi Pengembangan Diri,Jakarta : Personal development Training
- Papalia,olds,dkk. 2009. Human Development,Jakarta : Salemba Humanika
- Halgin, Whitbourne. 2011. Psikologi Abnormal, Jakarta : Salemba Humanika
wih baguss bgt, banyak banger referensi nya jadi makin lengkap :)
ReplyDeletewah lengkap banget, sayang kalo informasi lengkap seperti ini harus dilewtkan karena nambah pengetahuan banget :)
ReplyDeleteciiyeee emak yang very queen beee..
ReplyDeletebagus ey ini tulisnnya :)
avikaaaa...hahaha
ReplyDeletetulisannya bagus mak, sangat bermanfaat buat namabh2 informasi^^
Hemz,, tulisannya cukup menarik sih.. Banyak pengetahuan yang bagi orang awam hampir tidak tahu. Dari segi referensi dan contoh kasusnya pun sudah dapat memberikan begitu banyak penjelasan...
ReplyDeleteBahasa dan penulisan katanya juga baik,, namun sedikit saran.. agar dapat lebih disederhanakan lagi,, sehingga dapat dikonsumsi oleh semua lapisan tidak dhanya akademisi