Suku minangkabau merupakan salah satu suku yang ada di padang sumatra barat. Sumatra yang di kenal sebagai pulau ‘perantau’ memiliki karakter masyarakat yang kuat. Tak hanya kaum lelaki saja yang di haruskan merantau, saat ini wanitapun diperbolehkan untuk merantau, ada yang ikut suami,bekerja atau menempuh pendidikan. Suku yang bergariskan keturunan ibu atau matrelianisme ini memang mempunyai sterotip yang tidak baik dimata masyarakat awam. Orang padang atau suku minangkabau yang mereka kenal adalah pelit. Sebenarnya mereka tidak maksud untuk bersikap pelit melainkan untuk belajar memperhitungkan sesuatu. Oleh karena itu pula mengapa orang-orang minangkabau pandai berdagang. Dari kepandaian berdagannya suku minang pun dikenal dengan masakan atau rumah makan padangnya yang terkenal, bahkan sampai mancanegara. Selain mereka terkenal dengan berdagangnya, mereka juga mampu dalam bidang kepemerintahan. Selain menonjol dalam bidang perdagangan dan pemerintahan suku minang, Kurang lebih dua pertiga dari jumlah keseluruhan anggota suku ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermukim di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan,Batam, Palembang, dan Surabaya. Pertanyaan yang sering ditujukan adalah mengapa orang minang memilih untuk merantau? Hal tersebut disebabkan karena ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Penjelasan pendukung selanjutnya adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Mayoritas perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil. Untuk di luar wilayah Indonesia, suku Minang banyak terdapat di Malaysia (terutama Negeri Sembilan) dan Singapura. Menurut suku dalam etnis minang terdapat banyak klan, yang mana oleh orang minangnya sendiri disebut dengan istilah suku. Beberapa suku besar mereka adalah suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu, Jambak; selain terdapat pula suku pecahan dari suku-suku utama tersebut. Kadang beberapa keluarga dari suku yang sama, tinggal dalam suatu rumah yang disebut Rumah Gadang. Sekarang, suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk mencari persamaannya dengan suku induk. Menurut sosio kemasyarakatan suku minang, Di Daerah Minangkabau dikenal juga dengan banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik lainnya yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap Nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin-pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan KAN (Kerapatan Adat Nagari). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan. Karakter yang biasanya ada pada suku minang adalah kareh angok (gigih), karengkang, kareh kapalo (kopig, keras kepala, kepala batu, tak mau kalah), egois (suka menang sendiri dan mendahulukan kepentingan sendiri), rancak di labuah (tampaknya saja bagus), jinaha (licik dan licin). Stereotip itu yang juga biasa di kenal oleh orang-orang awam lainnya, padahal mereka seperti itu adalah untuk filter pertahanan diri mereka ketika merantau, oleh karena itu watak mereka disiplin ya walau sering pula disebut keras, itu karena agar mereka siap mental ketika merantau sehingga menjadi orang yang mandiri.
Sumber: - http://www.minangforum.com
- http://www.kompasiana.com
- http://www.wikipedia/all about suku minangkabau.com